![]() |
| Ilustrasi: plukme.com |
Membaca adalah Wahyu pertama Allah kepada Baginda Rasul Muhammad SAW. Wahyu yang bernada perintah karena ditafsirkan sebagai "Bacalah" padahal Rasulullah diketahui tidak bisa membaca dan menulis. Maka sesungguhnya perintah membaca ini adalah perintah untuk bisa "membaca" apa yang dudah dihamparkan oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala. Al Qur'an sendiri dibukukan setelah masa Rasulullah yaitu di masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang dimulai dari era Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq hingga Khalifah Utsman bin Affan.
Belajar dari situ, ada suatu kesimpulan yang mencerahkan bagi kita sebagai manusia yang terlahir bebas menentukan cara kita menjalani hidup bahwa proses belajar atau berpengetahuan tidak harus melalui buku diktat tetapi bisa melalui apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Namun karena kita bukan Rasul yang dituntun langsung oleh Allah SWT baik secara langsung maupun melalui malaikat Jibril, kita butuh contoh-contoh dan kisah pengalaman dari berbagai guru kehidupan agar ilmu yang kita dapat adalah ilmu yang membawa kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia.
Diperlukan kepekaan mata hati untuk mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi dan menangkap makna dibalik sebuah peristiwa. Tidak semua hal yang kita lihat, dengar dan rasakan dengan panca indera kita adalah hal yang sebenarnya. Banyaknya pencitraan membuat kita terkadang tertipu dengan apa yang ditangkap oleh panca indera kita. Terkadang kita butuh waktu lebih untuk memahami makna sebuah peristiwa sehingga "tafsir" kita tentang kejadian tersebut adalah tafsir yang sesuai dengan makna hakikinya.
Tidak mudah memang membaca apa yang ada didunia ini tanpa asumsi dan kepentingan diri sendiri. Sering kita salah dalam membaca sebuah tanda. Kita sering berselisih dengan orang lain adalah karena kegagalan kita membaca dengan tepat tanda yang ada. Namun seiring waktu berjalan, akan lebih mudah bagi kita untuk memahami perilaku jika kita terus belajar. Termasuk membaca tanda-tanda alam yang mungkin bagi sebagian orang dianggap takhayul.
Bagi saya, membaca tanda-tanda alam sebagai indikator sebuah kejadian bukanlah takhayul apalagi musyrik. Itu adalah ilmu memahami sunatullah. Memahami hukum-hukum Allah tentang alam. Semisal jika banyak hewan yang biasa hidup di lereng gunung tiba-tiba turun ke lembah dan desa-desa sekitar kaki gunung, kemudian kita baca sebagai akan ada peristiwa besar seperti gunung akan meletus, apakah itu takhayul? Contoh lainnya, jika langit mendung, angin bertiup agak kencang dan agak dingin, apakah takhayul jika kemudian kita baca sebagai pertanda akan turun hujan?
Pemahaman akan baca juga menjadi poin penting dalam proses kehidupan manusia. Pemahaman ini menjadi krusial karena jika kita salah membaca maka efeknya adalah kita salah paham. Referensi bacaan harus diutamakan dengan cara me-konfirmasi apa yang kita baca dengan pendapat-pendapat yang sudah ada sebelumnya meskipun tidak harus mengekor dari pendapat yang sudah ada. Pendapat bisa saja salah. Pertimbangan baik dan buruk patut dirasakan terlebih dahulu sebelum kemudian apa yang kita baca menjadi sebuah pemahaman.

Comments
Post a Comment